RSS

Ada yang Terlewatkan dalam Pendidikan Kita

21 Dec

“Knowledge is power, character is more”

Bukan rahasia lagi, jika guru dan murid, selalu didorong untuk mengejar dan menghimpun informasi keilmuan sebanyak mungkin, namun melupakan aspek pendidikan yang fundamental, yaitu bagaimana menjalani hidup dengan terhormat. Hingga akhirnya dunia mengenal negeri ini, sebagai negeri tempat bersarangnya “tikus-tikus”. Disadari atau tidak, salah satu penyebab merebaknya korupsi ialah gagalnya dunia pendidikan dalam pembentukan karakter agar hidup selalu dipandu nurani dan agama.tawuran

April 2012, sekelompok siswa keluar dari sebuah ruang ujian. Anda mengharapkan wajah mereka tegang, cemas, dan sedikit bercampur lega? Harapan itu tidak terkabul, karena wajah itu begitu ceria. Usut punya usut, mereka berhasil menjawab seluruh soal ujian hari itu. Wah, Alhamdulillah. Namun pujian kepada sang Maha Agung itu langsung terhenti saat mendengar jawaban itu mereka dapatkan justru sebelum ujian dimulai, sebagian bersumber dari guru, sebagian lagi dari hasil “kerja keras” mereka berburu kunci jawaban menjelang ujian. Miris? Saya menyebutnya ironis.

Di suatu pagi, seorang ayah dan anaknya mendatangi rumah seorang aparatur pemerintahan dengan wajah tegang. Pertemuan pun berlangsung, dan wajah tegang itu sirna, karena sang anak, meski dengan hasil ujian yang tidak lulus dan nilai yang buruk berhasil masuk ke sebuah perguruan tinggi favorit hanya  dengan beberapa lembar “pengorbanan”.

Dua peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Pagi itu, orangtua dan guru telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat orang atau guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya, secara moral orangtua tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran di mata anaknya.

Belum lama ini saya dibuat tercenung membaca headlines  sebuah harian. Tertulis : “ Kelulusan beberapa PNS dilingkungan Pemda dipertanyakan karena yang bersangkutan tidak ikut tes”.

Pendidikan berbasis karakter

Peradaban bangsa ditandai dengan pendidikan bangsa tersebut, bukan ekonomi nya. Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih  untuk membangun peracharacterdaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiannya keropos.

Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral.

Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness ,dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan [komaruddin, 2009].

Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.

Sebenarnya tak ada benda mati di hadapan orang yang akal budinya hidup. Terlebih di hadapan Tuhan, semuanya hidup dan bekerja atas perintah-Nya karena tercipta bukan tanpa tujuan. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh. Nah, sekarang kita kembali harus berkaca, apakah kita pantas disebut pendidik? Atau adakah hasil dari didikan kita sebagai seornag pendidik. Saya teringat sebuah Lembaga Bantuan Belajar di kota Banda Aceh pernah memiliki moto: ” Melalui pendidikan Aceh Bangkit”. Simple memang, namun susah diwujudkan mengingat fenomena miris yang mendera.

Belajar dan mengajar dengan hati

Saat mengajar oleh sebagian besar orang dinilai hanya sebatas profesi, beberapa buku muncul dengan pembahasan mengajar dengan hati. Dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall, dan Daniel Golleman, literatur seputar betapa vitalnya dimensi spiritual dan emosional dalam kerja dan belajar kian diapresiasi kalangan eksekutif muda dan praktisi pendidikan. Misalnya, Training ESQ-Leadership yang dimotori Ary Ginanjar mendapat sambutan masyarakat.

Pelatihan ini menghasilkan lebih dari 50.000 alumni, tersebar di seluruh perusahaan di Indonesia, dan tiap bulan bertambah sedikitnya 7.000. Bahkan training ini telah masuk kurikulum SESKOAD Bandung. Fenomena ini tentu amat menggembirakan, sebuah kebangkitan kesadaran etis dan spiritual dalam upaya membangun bangsa yang bermartabat serta mendorong lahirnya generasi baru yang setia dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan.

Ada beberapa buku yang sebaiknya dibaca para guru, misalnya karya-karya Eric Jensen, Thomas Armstrong, dan Dave Meier soal bagaimana menciptakan proses dan suasana pembelajaran dengan mengacu pada sifat otak dan emosi (brain based learning) sehingga suasana belajar menjadi nyaman, kreatif, dan kontemplatif. Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subyek, di mana anak-anak itu memiliki nurani dan potensi multikecerdasan, namun belum tergali dan teraktualisasi. Dengan demikian, proses pembelajaran sebaiknya dimulai dengan melihat, mengamati, dan merasakan lingkungan sosial yang dihadapi, guru dan murid berempati menjadi bagian integral dari realitas sosial dan semesta. Dari situ keilmuan dibangun untuk membantu memecahkan problem kemanusiaan. Sekali lagi, hasil yang diharapkan adalah pendidikan yang membangun karakter.

(dari berbagai sumber )

 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2012 in Bahan Kuliah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: